Saturday, February 22, 2014

Monumen Pancasila Sakti - Lubang Buaya - Mengenang sejarah Indonesia tahun 1965

Pada tanggal 30 Agustus 2013, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, yang berlokasi di Jl. Raya Pondok Gede Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Bela-belain jalan kesana dengan modal nekad dan ga tau arah dari Pluit, Jakarta Utara. Dan ternyata jalan kesana dengan menggunakan kendaraan umum cukup mudah, dari Pluit bisa langsung menggunakan busway jurusan Pinang Ranti - Pluit, turun di perhentian terakhir yaitu Pinang Ranti, lalu dilanjutkan dengan menggunakan transportasi umum angkot (angkutan kota) yang menuju ke arah sebelah kanan dari halte busway. 
Sebenarnya sudah pernah ke Monumen Pancasila Sakti ketika sekolah dasar, tetapi akhir-akhir ini saya memang tertarik dan penasaran dengan kejadian G30s ini. 
Beberapa buku tentang kejadian tersebut telah saya baca, dan sesungguhnya yang saya bisa simpulkan dari buku-buku dan sumber-sumber yang telah saya baca yaitu, kekejaman terhadap sesama manusia, sesama bangsa dan warga negara Indonesia yang berlangsung lama, berlarut-larut dan sangatlah tidak manusiawi telah dilakukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan berseteru. Banyak hal-hal mengerikan yang telah berhasil saya ketahui dari hasil research di media cetak maupun internet, contohnya PKI yang merencanakan pelaksanaan penculikan para jendral dan juga penumpasan PKI yang tidak melalui pengadilan yang seadil-adilnya, sehingga banyak korban tidak bersalah yang terkena imbasnya dan menjadi tertuduh, dibuang, diasingkan ataupun dibunuh. Walaupun tentunya, saya juga tidak bisa memastikan apakah hal-hal tersebut fakta ataukah rumor belaka. Yang membuat prihatin, sebelum Indonesia merdeka, bangsa Indonesia mendapat perlakuan kejam dari bangsa asing (yang sebenarnya juga tidak etis, karena penjajahan melanggar hak-hak kemanusiaan) kemudian setelah merdeka, ternyata penjajahan masih terjadi, karena perebutan kekuasaan yang diperebutkan oleh sesama bangsa Indonesia, sangatlah membuat saya prihatin. Kekerasan terjadi dimana-mana, main hakim sendiri atas nyawa sesama manusia, yang sebenarnya bukanlah menjadi hak manusia untuk mengambil nyawa itu sendiri.
Kendaraan yang digunakan untuk mengangkut jendral-jendral yang diculik
veranda penyiksaan 
Beberapa teori yang saya dengar tentang konspirasi G30S ini yaitu, direncanakan oleh Soeharto, dan ada juga yang bilang Soekarno, ada juga teori yang menyatakan D.N. Aidit, untuk hal ini pun saya belum tau kebenaran teori mana yang benar. Siapapun dalangnya, menurut saya sendiri, G30S ini tidak lain adalah perebutan kekuasaan untuk menurunkan Soekarno dan memiliki kekuasaan dan kekuatan tertinggi.
Ade Irma Suryani Nasution, korban G30S
 
bagian belakang
Kekuasaan yang bayarannya mahal melampaui kesanggupan oknum-oknum tersebut karena tumbalnya adalah nyawa dari jendral-jendral yang diculik dan juga korban-korban gerakan penumpasan PKI. Dalam hal PKI sendiri, saya pun tidak setuju akan adanya PKI karena memang caranya mereka bergerak dengan menggunakan kekerasan, contohnya adalah pemberontakan PKI di Madiun. Tetapi cara penumpasan terhadap oknum-oknum PKI pun saya tidak setuju, banyak yang dibawa atau diculik tengah malam ataupun dibunuh di rumah ataupun dibawa ke sekitar rumah untuk dibunuh tanpa melalui proses pengadilan yang benar, yang terbaru adalah film the act of killing yang bercerita tentang algojo PKI di Medan, oknum-oknum yang tertuduh PKI ditangkap dan disiksa, ada juga yang melalui mahmilub tetapi diceritakan tidak ada sanksi dan hanya ada 2 kemungkinan yaitu diasingkan atau hukuman mati. Menurut saya, nyawa manusia tidak sepadan untuk ditukar dengan kekuasaan. 
Dalam blog ini saya tidak akan menyebut pihak-pihak atau oknum-oknum terkait, karena saya sendiri juga tidak yakin dengan berita-berita simpang siur. Tetapi satu hal yang pasti, kekerasan dan kekejaman antar bangsa dan manusia yang sebegitu besarnya jangan sampai terulang lagi. Sejujurnya, dengan mengorek dan mencari kebenaran dari kejadian sejarah ini, sangatlah mengganggu batin saya, karena banyaknya kekerasan dan kekejaman yang terjadi. Yang memprihatinkan adalah generasi sekarang tidak lagi terlalu memperhatikan sejarah pada masa ini karena tidak seperti ketika saya kecil, film g30s ini wajib diputar setiap tanggal 30 September malam dan juga diputar di sekolah-sekolah. Bagaimana bisa mencegah sejarah kelam untuk tidak terulang lagi jika generasi baru tidak begitu paham dan tertarik untuk mengenal sejarah negara sendiri?
Sejarah hanyalah sejarah, yang hanya bisa dibaca dan ditilik lagi kebenarannya, dan kita juga hanya bisa berharap semoga hal-hal buruk seperti ini tidak terulang kembali. 
Let. Kol. Sugiyono
Lettu P.A. Tendean

Brigjen Sutojo S. 

gerbang Monumen Pancasila Sakti
lubang buaya dimana jenazah para jendral yang diculik dibuang
lubang buaya dimana jenazah para jendral yang diculik dibuang
Mayjen M.T Harjono
Kol. Katamso

Brigjen D.I Panjaitan
Majen R. Suprapto
Letjen Ahmad Yani


Mayjen S. Parman

 

1 comment:

  1. Jgn sampai tertipu propaganda PKI yg bilamg kalau mereka adalah korban.krn sesungguhnya merekalah yg awalnya membantai kiyai,ulama dan kaum muslimin yg tidak mau ikut ajaran PKI yg atheis. Bahaya laten komunis sudah mulai bangkit kembali..mari kita waspadai bersama

    ReplyDelete