Wednesday, July 24, 2013

Comprimising in Relationship : Kompromi atau Pengorbanan Prinsip?

Kompromi dalam arti kata ataupun dari kamus merupakan persetujuan dng jalan damai atau saling mengurangi tuntutan. Dalam berhubungan dengan orang lain, tentunya kompromi sangat diperlukan, yang didalamnya juga termasuk toleransi. Kompromi terjadi ketika prinsip hidup seseorang dengan pihak lain bertentangan dan untuk melanjutkan hubungan tersebut terjadilah kompromisasi.

Kebanyakan dari pengamatan saya, kompromisasi yang terjadi seringkali mengorbankan prinsip hidup salah satu pihak, yang dimana, menurut saya hal tersebut bukanlah kompromisasi tetapi penjajahan prinsip hidup seseorang oleh pihak lain yang lebih dominan.

Prinsip hidup menurut saya, adalah sesuatu yang sangat penting, dimana manusia dapat berpegang dalam hidupnya pada prinsip tersebut, selain agama, tradisi, norma, dan hukum. Wajar jika prinsip hidup seseorang merupakan bagian yang penting dan besar dalam hidupnya, karena prinsip terbentuk oleh adanya pengalaman-pengalaman hidup yang di dapat oleh orang tersebut. Pengalaman-pengalaman hidup seseorang ataupun prinsip tidak dapat diukur seberapa pentingnya oleh manusia lain, ada quote yang berkata "You'll never understand a person until you walk a mile in their shoes", yang merupakan analogi dari jika anda belum merasakan hidup menjadi seseorang, anda tidak akan mengerti beban atau problem yang dialami orang tersebut.

Kembali kepada kompromisasi dalam suatu hubungan, kompromi dalam suatu hubungan yang sehat adalah kompromi yang tidak saling menindas prinsip satu dengan yang lainnya. Saya sendiri sejujurnya pernah mengalami konflik prinsip hidup saya, dalam hubungan dengan pihak tertentu, saya pernah mengorbankan prinsip saya, padahal saya termasuk orang yang "keras" untuk hal-hal prinsipil, tetapi ketika itu saya mengira "well, ya memang dalam satu hubungan ada pihak yang harus berkorban", dan sekarang saya menyadari bahwa hal tersebut tidak benar. Jika hubungan tersebut adalah hubungan yang sehat dan benar adanya, akan terjadi kompromisasi yang benar, bukan dengan cara mengorbankan prinsip saya. Dan sebenarnya dengan mengorbankan prinsip, untuk saya hal tersebut membuat saya melupakan diri saya yang sebenarnya.

Contoh lainnya, hal ini pun terjadi pada saya dengan salah seorang keluarga saya, saya adalah seseorang yang anti akan rokok dan reaksi saya sangat keras terhadap hal tersebut. Adik saya adalah perokok, tetapi jika saya berada dalam satu ruangan yang sama dengan dia, dia akan merokok di tempat lain atau mengambil tempat duduk yang jauh dari saya, sehingga saya tidak terganggu dengan asap rokoknya. Dalam hal prinsip tentu kami saling bertentangan, prinsip saya adalah tidak merokok sama sekali, sedangkan dia menyukai hal tersebut. tetapi dengan adanya kompromi tadi, kami tidak terganggu satu sama lain, walaupun tentunya saya ingin sekali dia berhenti merokok.

Dari banyak hal yang saya alami, kompromi yang benar dan baik akan menuju pada suatu hubungan atau relasi yang baik juga, karena kedua belah pihak tidak merasa tertindas atau mengeluarkan pengorbanan lebih besar. Dengan kompromi yang benar, kedua belah pihak akan merasa equal dan tidak mengorbankan prinsip atau identitas diri satu sama lain tetapi dapat terus jalan berdampingan.

Sunday, July 14, 2013

PALSU

Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. - Soe Hok Gie (catatan seorang demonstran)

Kata-kata diatas dikutip dari catatan Soe Hok Gie, seorang pemuda yang berani menyampaikan kritik-kritiknya untuk kemajuan bangsa. 
Jaman sekarang sudah jauh berbeda dengan tahun 60an, dimana pers dan media media kadang menyampaikan berita-berita yang menyimpang dari kenyataan dikarenakan pembungkaman oleh pemerintah. 

Kata- kata yang dikutip dari Soe Hok Gie tersebut dalam pembahasan saya kali ini lebih kepada individual-individual manusia yang notabene nya sering bermulut manis dan seringkali hanya kebenaran tersebut hanya terucap di bibir saja. Entah itu tua maupun muda, janji-janji saja yang dikeluarkan tanpa pembuktian. 

kebenaran yang terucap hanya dari bibir saja, bukan dari otak ataupun hati. Apakah tidak ada lagi manusia yang menghargai janji dan kebenaran? Apakah hal-hal tersebut hanyalah sekumpulan kata-kata belaka yang tidak memiliki arti bagi si pengucap? 

Sangat disayangkan, pengingkaran kebenaran dan janji-janji telah dianggap enteng oleh generasi-generasi modern. Dalam masyarakat yang mengenal teknologi canggih, apakah nilai-nilai dasar seperti itu sudah hilang? Hanya menjadi kepalsuan belaka yang menghiasi bibir bibir sang pembicara.